Label:

T A K Z I R

Cerpen Ahmad Zaini*
  
   Hembusan angin senja menyapa wajah ketika aku memacu motorku pulang dari tanah lapang. Rasa dingin mulai terasa ketika kaos hanya kukalungkan di leherku. Tubuhku yang setengah bugil menggigil di tengah jalan yang kulalui. Apalagi jalan yang menuju ke rumahku berada di tengah-tengah persawahan. Kontan saja angin tanpa hambatan menghempas tubuhku yang melaju kencang mengendarai motor.
  
Sesampai di rumah, lampu-lampu hias di pagar rumahku mulai menyala. Sinarnya mengundang ribuan serangga menari di sekelilingnya. Untung saja aku membawa kaos yang kusangkutkan di pundak. Kaos itu kugunakan untuk menutup wajahku sehingga serangga yang beterbangan di sekitar pintu gerbang tidak sampai menganai wajahku.

   Ayahku sudah berpakaian rapi bersiap-siap menuju masjid. Mengenakan kopyah dipadu dengan baju koko serta bagian bawah mengenakan sarung putih dengan garis-garis tipis berwarna hitam. Sedangkan ibu berjalan di samping ayah dengan mengenakan mukena yang bagian bawahnya diangkat biar tidak menyapu kotoran di perjalanan. Mereka melirik diriku yang baru masuk halaman rumah hanya mengenakan celana pendek dengan kaos yang hanya kuselendangkan saja di pundak. Mereka diam tidak berkata apa-apa kepadaku. Mungkin mereka sudah bosan dan jenu karena mereka sudah beberapa kali menasihatiku namun tidak pernah kuperhatikan.

   Hari benar-benar malam. Udara dingin berhembus menerobos jendela rumah. Tubuhku yang masih setengah telanjang terasa dingin hingga ke sumsum. Kuberanjak dari duduk dan meninggalkan kursi ruang tamu. Handuk yang bergelantungan di tempat jemuran kusambar dengan berlalu menuju kamar mandi. Temaram lampu di ruang tengah hampir saja membuat kakiku terantuk kaki meja. Untuk saja aku sigap menghindari kaki meja itu.

   Perlahan pintu depan bergerak. Kemudian muncul dari balik pintu itu kedua orang tuaku datang dari masjid. Mereka diam tak berkata apa-apa kepada saya. Mereka berlalu di depanku kemudian mengambil kitab suci Al Quran untuk dibaca bersama-sama. Lantunan ayat suci terdengar merdu hingga cicak-cicak yang mengelilingi lampu menunggu mangsa diam seribu bahasa mendengarkan lantunan suara orang tuaku. Kemudian mereka menuju ke kursi di ruang tamu.

   “Rusli, kemarilah!” panggil ayahku.

   Aku lantas beranjak dari tempatku menuju ke ruang tamu. Mereka tampak seperti ada yang akan disampaikan kepadaku.

   “Kamu ini sudah lulus SMP, Rus. Masak setiap hari kamu pulang menjelang maghrib dengan bertelanjang dada seperti itu! Apalagi di saat seperti itu banyak orang yang berangkat ke masjid untuk shalat maghrib.  Ayahmu malu, Rus!” kata ibu.
   “Terus…..!” tanyaku dengan nada tinggi.
   “Kami ingin kau jangan larut lagi dengan kegemaranmu bermain bersama teman-temanmu di lapangan terus pulang saat maghrib dengan model seperti itu!” ibu menjelaskan kepadaku.  Spontan aku berdiri lalu pergi meninggalkan mereka yang masih duduk di ruang tamu.

   Kamarku yang lengang merasa kaget ketika aku menghempaskan tubuhku di ranjang. Setelah beberapa saat aku kemudian  berpakaian rapi kemudian pergi untuk berkumpul dengan teman-taman di perempatan jalan.

   Riuh rendah suara teman-teman bernyanyi mengikuti irama yang muncul dari dawai gitar yang dipetik oleh seorang teman. Suara ketimpung berdetak-detak menambah rancak irama yang meramaikan malam itu. Suara tak berirama asal bunyi terdengar menderu memecah keheningan malam. Tak terasa sudah larut malam. Kami bubar dengan peluh yang bercampur udara dingin memenuhi tubuhku. Dalam perjalanan ke rumah di kanan-kiri jalan terdengar binatang malam bernyanyi bersahut-sahutan meneruskan nyanyian kami sebelumnya. Di sudut jalan tampak cahaya kunang-kunang betina yang mengerlingkan cahayanya kepada saya.

   “Oh…..indahnya malam ini!”
   Sesampai di rumah, saya harus mengetuk-ngetuk pintu yang terkunci dari dalam. Dengan menahan rasa kantuk, ibu terpaksa membukakan pintu untukku.
   “Dari mana saja kamu ini?” Tanya ibu.
   “Biasa, Bu. Anak muda,” jawabku dengan tidak berani menatap wajah ibu.

   Kulihat bayangan ibu dari cermin almari di ruang tengah tampak kecewa dengan menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin dia sudah kesal melihat tingkahku yang meresahkan mereka.

   Pagi hari ketika matahari belum menampakkan batang hidungnya, aku mendengar kedua orang tuaku berbincang-bincang di ruang tamu. Mereka tidak tahu bahwa diriku sudah bangun tidur. Aku perhatikan isi perbincangan mereka.
   “Saya setuju, Pak!” kata ibu. Aku penasaran dengan apa yang diperbincangkan mereka sebelumnya. Tiba-tiba ibu sudah menyetujuinya.
   Kedua telingaku benar-benar kupaksa bekerja dengan baik dan jangan sampai salah pendengaran. Kuperhatikan lagi perbincangan mereka. Betapa kagetnya diriku ternyata mereka merencanakan sesuatu.
   “Kalau kita tidak segera mengirim anak kita ke pesantren, kita akan mendapatkan bahaya yang dasyat. Anak kita akan semakin sulit diatur,” ayah memberi penjelasan kepada ibu.
   “Tidak! Aku tidak mau ke pesantren!” teriakku dari dalam kamar.
   Mereka tersentak kaget dengan ucapanku. Mereka mengira bahwa aku masih tidur. Dengan cepat ayah berdiri kemudian menghampiri diriku di dalam kamar.
   “Pokoknya besok kamu harus saya kirim ke pesantren!” kata ayah.
   “Tidak mau!” aku menolak.
   “Harus mau!” bentaknya.
   “Nak, menurutlah! Kami sangat mengharapkan dirimu menjadi anak yang mengerti masalah agama. Kami malu kepada masyarakat!” bujuk ibu.
   Memang kedua orang tuaku di tengah masyarakat ditokohkan. Bahkan setiap malam Jumat ayah selalu memberikan ceramah kepada para jamaah. Mereka mungkin malu dan terbebani oleh kelakuanku yang dianggap memalukan. Setelah kupikir-pikir ternyata ada benarnya. Kemudian aku diam dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang tuaku.
   “Tapi, apakah saya sanggup mempelajari ilmu agama di pesantren, Bu?” tanyaku kepada Ibu.
   “Ya, belajar mulai dari dasar!” jawabnya.
   “Besok pagi saya antarkan ke pesantren,” kata ayah menyela pembicaraanku dengan ibu.
   Sehari penuh pikiranku disibukkan dengan bayangan-bayangan kehidupan di pesantren. Temanku pernah bercerita bahwa di pesantren itu banyak peraturan-peraturan yang mengekang kebebasan. Di pesantren juga penuh dengan jadwal pengajian. Mulai subuh, waktu dhuha, hingga setelah maghrib selalu ada pengajian. Belum lagi kalau malam hari. Para santri harus tidur di atas lantai tanpa alas tidur.
   “Jangankan kasur, tikar pandan pun tidak ada!” cerita temanku.
   “Terus makannya bagaimana?”
   “Makan memang ada jatah. Tapi lauk harus membeli sendiri. Makanya saya tidak betah di pesantren! Kehidupan di rumah dan di pesantren itu perbandingannya bainassamak wa sumber minyak!” kelakarnya yang disahut ketawa oleh teman-teman.
   Cerita temanku tidak cukup sampai di situ. Dia juga menceritakan bahwa di pesantren kalau melanggar peraturan, maka akan dikenakan takzir. Ya, semacam diberi hukuman. Seperti santri yang tidak ikut shalat jamaah, maka dia akan dikenakan sanksi membersihkan kamar mandi. Kalau ada santri yang tertangkap keamanan karena berpacaran, maka mereka akan dihukum gundul terus diarak di tengah halaman pesantren dan disaksikan oleh santri yang lain.
   “Iya, tidak! Iya, tidak! Iya, tidak!” kataka ragu dalam hati.
   Namun, keinginan orang tuaku tidak dapat dibendung lagi. Maka dengan sangat terpaksa aku harus menuruti kehendak orang tuaku.
   Pagi hari ketika matahari baru saja muncul di ujung timur, kedua orang tuaku mengetuk-ngetuk pintu kamarku. Suaranya mengehentak-hentak seperti ketukan palu menempa paku di atas kayu. Telingaku terusik lantas aku bangun dengan membukakan pintu kamarku. Aku melihat mereka sudah berdandan rapi dan siap mengantarkanku ke pesantren.
   “Mandi dulu dan ini pakaianmu!” perintah ayah. Dengan menahan rasa kantuk aku berjalan sempoyongan.menuju ke kamar mandi.
   Aku agak risih ketika orang tuaku memaksa diriku memakai sarung, baju koko, dan kopyah hitam. Seumur hidupku belum pernah aku memakai pakaian seperti ini.
   Ketika kami berangkat, teman-temanku yang baru pulang dari jalan-jalan pagi menertawaiku. Mereka mengejek diriku. Namun ketika aku akan membalas ejekan mereka, tiba-tiba ayah menahanku.
   “Jangan hiraukan mereka!” larang ayah.
   Sesampai di pesantren aku diserahkan kepada pemangku pesantren. Seorang lelaki yang bercambang lebat dan usianya lebih muda daripada usia ayahku. Dia menjelaskan semua peraturan yang berlaku di pesantren.
   Malam hari telah tiba. Para santri usai melaksanakan shalat isyak berjamaah. Aku melihat mereka berjabat tangan dan menciumi tangan ustadz. Mereka berdiri mematung ketika ustadz itu hendak keluar dari mushalla. Di depan mushalla santri yang lain berebutan menata sandal ustadz. Aku masih belum paham apa maksud perilaku mereka hingga sikap mereka kepada ustadz sampai seperti itu.
   “Masa bodoh! Sudah mengantuk. Tidur, ahhh!” kurebahkan tubuhku di atas lantai tanpa alas apa-apa.
   Tengah malam aku terbangun. Aku tidak betah menahan rasa dingin yang menggerogoti tubuhku. Aku juga tidak tahan gigitan nyamuk yang silih berganti menghisap darahku. Lantas aku keluar dari kamar pesantren.
   Di luar tampak sepi. Tak ada satu pun santri yang bangun dan menemaniku di teras. Kutatap langit yang nampak cerah oleh guyuran sinar purnama. Hitam rupanya tampak indah saat gemintang menari ceria mengelilingi bulan purnama. Sebuah bintang terlihat mengerlingkan mata menggoda diriku. Ingatanku lantas mengembara ke rumah. Aku membayangkan teman-temanku jika malam purnama seperti ini. Mereka berkumpul di perempatan jalan sambil bernyanyi ria. Sebagian ada yang mengisap rokok hingga kepulan asapnya terlihat jelas oleh pancaran cahaya purnama. Tapi di sini, sepi tak ada pesta apa-apa. Tak ada lagu-lagu yang didendangkan. Yang ada hanya suara dengkur dari dalam kamar.
   Detak-detak jarum jam yang tergantung di dinding kamar menggema. Langkahnya menyeret waktu ke menjelang pagi. Tak lama kemudian adzan shubuh berkumandang. Para santri bergegas bangun tidur. Mereka ke kamar mandi kemudian mengambil air wudlu. Mereka menunggu ustadz dengan berbaris rapi di mushalla.  Sementara rasa kantuk telah menyelimuti diriku hingga tak kuasa aku tahan. Perlahan kurebahkan tubuhku dan terlelap dalam tidur.
   “Hai, bangun!” bentak keamanan pesatren dengan memukulkan sajadah ke arah tubuhku. Aku tersentak kaget dan geragapan bangun.
   “Kau telah melakukan dua jenis pelanggaran. Pertama, kamu tidak shalat shubuh. Kedua, kamu tidak mengikuti pengajian umum setelah jamaah shubuh. Sesuai dengan peraturan, kamu harus ditakzir. Kamu harus membersihkan toilet santri di belakang gedung ini” tegur keamanan dengan menunjuk ke arah toilet santri.
   “Apa???” aku kaget.
   “Ayo, cepat laksanakan!” bentaknya. Dengan berat hati saya harus melaksanakan takzir ini.
   Seumur-umur aku belum pernah bekerja keras seperti ini. Apalagi membersihkan toilet.
   “Cih, menjijikkan!” umpatku.
   Di rumah segala urusan selalu dikerjakan oleh ayah. Tubuhku terasa lemas kecapekan kerena membersihkan toilet santri yang kotornya bukan main. Perut terasa mual mencium bau sisa-sisa kotoran yang masih menempel di closed. Mataku kemudian berkunang-kunang lalu keringat dingin bercucuran dari sekujur tubuhku. Kemudian aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Para santri di pesantren berbondong-bondong membopong diriku ke dalam kamar. Mereka sibuk memberikan perawata kepadaku. Termasuk juga keamanan pesantren yang mentakzirku. Dia rupanya panic ketika melihat diriku pingsan. Ia merasa bersalah memberikan takzir di luar batas kemampuan tenaga saya. Ketika aku sadar ternyata aku sudah berada di puskesmas dan di sampingku duduk kedua orang tuaku dan didampingi pengurus pesantren. (*)
  
Telaga Biru, Juli 2009
  
*Cerpenis adalah Pembina  MA RM Babat
Tinggal di Wanar Pucuk Lamongan



BIODATA PENULIS:

Nama            : Ahmad Zaini
Tempat, tanggal lahir    : Lamongan, 7 Mei 1976
Alamat         : RT 02 RW 02 Wanar Pucuk Lamongan Kode Pos 62257
Nomor HP        : 081 33 00 99 757

0 komentar:

Posting Komentar