Label:

Potret Buram Perayaan Kelulusan Ujian Nasional

Ketika Pendidikan Hanya Mengejar Nilai UN

Tabloid Maarif NU,

Lepas sudah beban yang mengayun dipikiran, ketika melihat daftar nomor dan nama sudah terpampang di papan pengumuman kelulusan sekolah, demikian kiranya yang dirasakan oleh mayoritas siswa-siswi di tanah air. Seakan terbayar sudah jerih payah yang selama ini. kerja keras yang di lakukan telah membuahkan hasil juga dengan menyandang prediket lulus.

Lulus, disamping hasil dari ikhtiyar adalah merupakan anugrah dari Allah SWT sudah sepatutnyalah bila mengsyukuri karunia tersebut. Lebih lebih bukan hanya lulus tetapi mendapatkan nilai terbaik dan memuaskan.

Hari itu baru saja pengumuman kelulusan Ujian Nasional siswa/siswi sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejurusan resmi dikeluarkan. Seperti tahun-tahun sebelumnya tradisi aksi corat-coret seragam dilanjutkan dengan aksi konvoi motor menjadi sebuah kebiasaan dikalangan para pelajar yang baru saja resmi melepas setatusnya sebagai anak sekolahan.

Entah bagaimana mulanya sampai tradisi ini menjadi sebuah kebiasaan turun temurun. Namun tradisi yang satu ini masih sangat populer hingga saat ini, banyak sekali siswa-siswi yang salah dalam merealisasikan rasa syukur tersebut. Setelah melihat hasil pengumuman, tak sedikit yang langsung merayakanya dengan coret-coret seragam sekolah dan saling membubuhi tanda tangan sesama temanya. Tak puas dengan itu, dilanjutkan dengan arak-arakan sepeda motor keliling jalan raya dengan memngeraskan suara knal pot yang menyebabkan terganggunya arus jalan raya. Hal ini tentunya bukanlah cerminan pelajar yang beretika baik.

Kalau hal demikian dianggap sebagai manifestasi rasa syukur atas kelulusan maka salah. Bukanlah mensyukuri, melainkan mengkufuri. Tuhan memang menganjurkan kepada hambanya untuk mensyukuri karunianya, sebagaimana firmanya “Lain syakartum laaziidannakum wa lain kafartum inna adzabii lasyadiid” barang siapa yang bersyukur kepadanya maka dia akan menambahkan nikmatnya dan barang siapa yang mengkufurinya sungguh adzabnya sangatlah pedih.

Tak kalah penting lagi bagi instansi yang berkaitan untuk  mengemban siswa-siswinya, memberi pencegahan agar tidak melakukan hal-hal yang negatif, dan memberi pengarahan agar bersyukur dengan kegiatan kegiatan yang positif. Begitu juga bagi aparat kepolisian untuk menindak tegas bagi pelajar yang melakukan arak –arakan di jalan raya demi tetibnya lalu lintas dan masyarakat.

Sebetulnya ada hal yang lebih penting dilakukan siswa-siswi yang sudah lulus yaitu menata pendidikan ke jenjang berikutnya dan menata masa depan yang akan di laluinya dari pada ogal ogalan di jalan yang tiada guna. Sebenarnya banyak cara lain yang bisa digunakan para pelajar untuk mengekspresikan rasa syukurnya melalui cara-cara yang tentu saja lebih positif dibandingkan harus mencorat-coret seragam atau berkonvoi ria di jalan raya. Sebagai contoh melakukan doa bersama atau mengadakan sholat berjamaah disekolah dalam rangka mengucapkan syukur kepada Tuhan
Karena telah memberikan kelulusan kepada mereka. Bisa juga dengan membagi-bagikan sembako kepada orang-orang yang membutuhkan dalam rangka berbagi kesenangan atas kelulusan tersebut. Atau yang paling mudah mengadakan acara bakti sosial dengan mengumpulkan seragam-seragam layak pakai yang tidak lagi digunakan untuk diberikan kepada adik kelas atau kepada orang-orang yang membutuhkan.

Sudah pasti hal-hal tersebut akan jauh lebih bermakna dibandingkan harus membudayakan tradisi corat-coret seragam atau konvoi motor yang tidak jelas apa manfaatnya. (Aan)

0 komentar:

Posting Komentar